Dance with Me - a flashfiction
Sepuluh menit yang lalu, Arimbi membanting selendangnya. Pembohong. Katanya akan datang melihatku berlatih, batinnya gusar. Pelatihnya, Ibu Dar, sempat menegurnya karena tindakannya mengganggu konsentrasi adik-adik yang berlatih tari Srimpi di pendopo yang sama. Tapi itu tak lama, menari menyeimbangkan emosi Arimbi dan kini sudah tak terlihat gurat kesal di wajahnya. Bagus. Arjuna tersenyum senang melihatnya. Perlahan ia berjalan mendekati pinggiran lain pendopo. Arimbi masih bergerak lincah, memainkan selendangnya kesana kemari. Seperti seorang idola, banyak turis yang menonton latihan itu mengabadikan gambarnya.
Sedikit. Cukup sedetik saja, Arimbi bisa langsung merasakan kehadiran Arjuna di antara kerumunan manusia di hadapannya. Ia sudah terbiasa ditonton ribuan orang kala ikut menari dalam sebuah sendratari, namun menari di hadapan Arjuna ini baru pertama kalinya. Gerakannya sedikit melambat, dan Ibu Dar langsung membenarkannya. Selalu saja Arjuna berhasil memecah konsentrasinya. Arjuna sedikit menyesali kenapa ia sudah muncul sebelum latihan tari Arimbi selesai, akibatnya Arimbi kena tegur lagi, tapi ia juga tidak ingin mengecewakan gadis itu karena kadung berjanji. Jadi kali ini ia memilih untuk menunggu sampai latihan benar-benar selesai untuk mendekati Arimbi. Sedikit banyak ia juga takut dengan Ibu Dar yang bisa sangat protektif terhadap anak didiknya. Arimbi berjalan mendekatinya, masih berbalut kaos dan bawahan jarik yang membentuk tubuhnya.
"Bagaimana Austria?"
"Kamu bahkan belum tanya kabarku." "Aku cukup tahu kamu baik-baik saja." "Kalau kamu masih kesal, aku pulang dulu saja ya."
Arimbi cepat menahan lengan Arjuna, "Jangan."
"Kenapa terlambat?"
"Aku tidak terlambat, aku memperhatikanmu dari sudut lain. Kalau aku muncul sejak tadi kamu pasti tidak bisa konsentrasi kan?" goda Arjuna. Lagi-lagi Arjuna menikmati perubahan raut wajah Arimbi dari senang-kesal-senang.
"Bagaimana Austria?"
"Kenapa begitu penasaran?"
"Aku hanya ingin tahu." Arjuna tersenyum geli, nyatanya Arimbi belum berubah. Tetap keras kepala. Namun cukup bagus dalam pengendalian emosi, pasti karena hasil latihan menari.
"Hmm..Austria dingin. Tanpa kamu." Seketika pipi Arimbi memerah, rasanya seperti ada pemanas otomatis di tubuhnya.
"Would you like to dance with me, Arimbi?"
Kali ini Waltz. Arimbi membiarkan Arjuna menarik tubuhnya dan menari bersama.
9:39 PM / 21.02.2012
